Kawasan

Ada 20 Kasus Pembalakan Liar di Meru Betiri

Antara News, 15 Juni 2011

Jember (ANTARA News)- Sebanyak 20 kasus pembalakan liar terjadi di kawasan Taman Nasional Meru Betiri (TNMB) yang berada di Kabupaten Jember dan Banyuwangi, Jawa Timur, selama lima bulan terakhir (Januari-Mei) 2011.

Kepala Polisi Hutan (Polhut) TNMB, Musafa, Selasa, mengatakan sebanyak 20 kasus pembalakan liar tersebut, hanya empat kasus yang diproses oleh petugas TNMB dan aparat kepolisian.

"Sebanyak 16 kasus pembalakan liar lainnya hanya temuan petugas dan tidak ada tersangkanya. Petugas hanya menemukan bekas kayu hutan yang sudah ditebang dan sejumlah gelondongan kayu di pinggir hutan," tuturnya di kantor TNMB Jember.

Bumi Merapi Belum Bisa Ditanami

Antara News, 15 Juni 2011

Yogyakarta (ANTARA News) - Semangat menanam bibit pohon untuk menghijaukan kembali kawasan Gunung Merapi tampaknya harus tertunda, karena bibit yang sudah ditanam kini "enggan" tumbuh akibat kekeringan.

Camat Cangkringan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Samsul Bakri mengimbau para relawan maupun donatur agar untuk sementara menunda penanaman bibit pohon di kawasan Merapi selama musim kemarau, karena saat ini banyak bibit yang sudah ditanam mati akibat kekeringan.

"Saat ini bukan waktu yang tepat untuk menanam bibit pohon, dan karena itu kami imbau para relawan maupun donatur menunda penanaman di kawasan Merapi. Kami sekarang sedang konsentrasi merawat tanaman yang sudah tertanam agar tidak mati," katanya di Sleman, pekan lalu.

Menurut dia, donatur yang akan menanam bibit pohon di kawasan gunung itu dapat menitipkan dulu bibit tersebut kepada Tim Penghijauan lereng Merapi yang ada di Desa Wukirsari, Kecamatan Cangkringan.

KONSERVASI LINGKUNGAN Peta Indikatif Hapus 17 Juta Hektar Gambut

Kompas cetak, 15 Juni 2011

Jakarta, Kompas - Peta indikatif lampiran Instruksi Presiden Nomor 10 Tahun 2011 tentang Penundaan Pemberian Izin Baru dan Penyempurnaan Tata Kelola Hutan Alam Primer dan Lahan Gambut menghapus sebagian besar lahan gambut yang tersisa. Dari 21,5 juta hektar lahan gambut yang dipetakan tahun 2004, yang termaktub ke dalam peta indikatif hanya 4,5 juta hektar sehingga 17 juta hektar lahan gambut terhapus.

”Kami membandingkan secara digital data peta indikatif dengan data spasial lahan gambut dari satu-satunya peta gambut yang dibuat Wetlands International bekerja sama Kementerian Kehutanan yang dilansir tahun 2004,” kata spesialis Sistem Informasi Geografis (GIS) Greenpeace Asia Tenggara-Indonesia, Kiki Taufik, Selasa (14/6) di Jakarta.

TWA Gunung Meja Jadi "Tempat Sampah"

Kompas Cetak, 14 Juni 2011

Manokwari, Kompas - Kawasan Taman Wisata Alam Gunung Meja di Manokwari, Papua Barat, menjadi tempat pembuangan sampah liar. Kantong-kantong plastik besar berisi sampah menumpuk di beberapa titik jalan aspal yang membelah TWA Gunung Meja dari daerah Sarinah hingga ke Kampung Ayambori di Distrik Manokwari Barat. Tumpukan sampah juga terdapat di kawasan hutan TWA Gunung Meja.

Bukan hanya warga yang membuang sampah di sana, petugas kebersihan di Manokwari juga membuang sampah di Gunung Meja. Beberapa waktu lalu warga Kampung Ayambori memergoki truk sampah milik Dinas Pekerjaan Umum Manokwari akan membuang sampah ke hutan Gunung Meja.

”Truk sampah mau buang sampah, tetapi tidak jadi karena lihat ada pemuda-pemuda kampung yang sedang duduk-duduk di dekat gerbang masuk TWA Gunung Meja,” kata Yermias Mandacan, kepala suku di Kampung Ayambori, Senin (13/6) di Manokwari.

Warga menduga, kejadian tersebut bukan yang pertama kali. Hal ini karena di hutan setidaknya ada tiga titik tumpukan kantong plastik besar penuh sampah. Hal ini membuat warga, yang kurang dari 1 kilometer dari lokasi tumpukan sampah, protes. Bau busuk sering tercium saat mereka melintasi jalan itu.

Setiap hari ada saja warga yang seenaknya membuang sampah di TWA Gunung Meja. Warga melemparkan kantong sampahnya sembari melintas dengan mobil atau motornya.

21 Juta Hektare Lahan Gambut Potensial untuk Pertanian

Tempointeraktif. Com, 27 Mei 2011

TEMPO Interaktif, Jakarta - Indonesia memiliki potensi lahan gambut yang bisa dimanfaatkan untuk garapan pertanian. Menurut anggota Komite Ekonomi Nasional, Hermanto Siregar, luas lahan gambut tersebut tak tanggung-tanggung, mencapai 21 juta hektare yang banyak tersebar di Kalimantan, Sumatra, dan Papua.

"Dari jumlah tersebut sekitar 33 persen lahan gambut itu dianggap layak menjadi lahan pertanian," ujar Hermanto dalam diskusi terbatas Kontroversi Pemanfaatan Lahan Gambut di Hotel Borobudur, Jakarta, Jumat, 27 Mei 2011.

Namun, sayangnya pemerintah masih belum banyak memanfaatkan potensi lahan gambut tersebut untuk pertanian. Hermanto, yang juga pengamat pertanian dari Institut Pertanian Bogor, menyatakan lahan gambut yang bisa dimanfaatkan adalah gambut dangkal dengan kedalaman kurang dari 100 centimeter.

"Karena gambut dangkal tingkat kesuburannya lebih tinggi dan risiko lingkungannya lebih rendah," ujarnya.

Pencemaran Rugikan Semua Pihak

Kompas Cetak, 26 April 2011

Bandung, Kompas - Kerusakan Sungai Citarum di Jawa Barat akibat pencemaran dan sedimentasi yang hebat telah merugikan pemerintah, pembangkit listrik tenaga air, petani, pembudidaya ikan, industri tekstil, dan rakyat biasa. Padahal, investasi pemerintah dan swasta di aliran sungai tersebut mencapai triliuan rupiah. Investasi tekstil dan produk tekstil, misalnya, sekitar Rp 80 triliun.

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia Jawa Barat Dedy Widjaja, pekan lalu di Bandung, mengatakan, saat banjir Citarum melanda selama sebulan penuh, Maret 2010, kerugian semua jenis industri di Kabupaten Bandung, Purwakarta, dan Karawang mencapai Rp 200 miliar. Selain tekstil dan produk tekstil, pabrik yang stop operasi bergerak di bidang otomotif dan elektronik.

General Manager Indonesia Power Unit Bisnis Pembangkit Saguling Erry Wibowo mengungkapkan, pencemaran itu membuat peralatan turbin cepat rusak akibat pengaratan. ”Kami harus segera mengganti turbin. Jika terlambat, akan mengganggu sistem operasi,” ujarnya.

EKSPEDISI CITARUM 2011 Cita-cita Kemerdekaan Republik Indonesia Mengalir dari Sungai Citarum

Kompas Cetak, 25 April 2011
Dedi Muhtadi
Pengantar Redaksi

Mulai Senin (25/4) selama 10 hari berturut-turut, ”Kompas” menurunkan laporan Ekspedisi Citarum 2011. Ekspedisi telah menjadi tradisi ”Kompas” untuk menggali dan mengangkat pelbagai persoalan di suatu wilayah ke panggung nasional. Ekspedisi Citarum merupakan yang keenam untuk sungai setelah Kapuas, Mahakam, Bengawan Solo, Ciliwung, dan Musi.

Tidak ada sungai yang peran dan fungsinya begitu strategis seperti Citarum. Selain menerangi peradaban hampir separuh penduduk negara ini di Pulau Jawa dan Bali, Citarum juga mengairi area pertanian dan perikanan, memasok air untuk industri, serta menyuplai bahan baku air minum, khususnya bagi 80 persen warga DKI Jakarta.

Itulah yang menjadi alasan Kompas melakukan Ekspedisi Citarum 2011. Bagi peradaban bangsa, eksistensi sungai yang mengalir sejauh 269 kilometer itu bukan sekadar penyedia kebutuhan air bersih, melainkan multifungsi, baik ekonomi, perdagangan, pertanian, dan peternakan maupun pertahanan (benteng alam) dari musuh.

Untuk fungsi terakhir ini, peran Citarum hampir sebanding dengan sungai pada peradaban tua dunia, seperti Sungai Nil di Mesir, Mesopotamia, atau Eropa, yang kemudian menghasilkan ilmu pengelolaan sungai: one river, one plan, one management. Peran ini terutama ditunjukkan Citarum di Rengasdengklok, kecamatan di Kabupaten Karawang, Jawa Barat.

Citarum Tercemar dari Hulu

Kompas Cetak, 25 April 2011

Bandung, Kompas - Sungai Citarum, sumber air minum bagi 25 juta warga Jawa Barat dan DKI Jakarta serta pemasok tenaga listrik bagi Pulau Jawa dan Bali, kini tercemar logam berat. Pencemaran disertai pelumpuran dan pendangkalan yang hebat terus berlangsung tanpa ada penanganan serius.

Akibatnya, hampir semua fungsi sungai yang sangat strategis bagi kepentingan nasional itu rusak berat. Percemaran dan sedimentasi terjadi mulai dari hulu sungai di Situ Cisanti di kaki Gunung Wayang, Bandung selatan, dan mengalir sepanjang 269 kilometer hingga muara sungai di Pantai Muara Merdeka, Kecamatan Muara Gembong, Kabupaten Bekasi, Jabar.

Sebelum mengalir ke Laut Jawa, sungai terbesar dan terpanjang di Jabar ini digunakan untuk pembangkit listrik tenaga air (PLTA) di Waduk Saguling (kapasitas 700-1.400 megawatt), WadukWaduk Cirata (1.008 MW), dan Waduk Jatiluhur (187 MW). Ketiga PLTA itu memasok listrik untuk jaringan interkoneksi Pulau Jawa-Bali yang dihuni hampir separuh dari penduduk negeri ini.

Air Citarum yang tercemar juga digunakan untuk perikanan dan irigasi di 420.000 hektar lahan pertanian di Kabupaten Bandung, Kota Bandung, Kabupaten Bandung Barat, Cianjur, Purwakarta, serta lumbung padi nasional di Kabupaten Karawang, Subang, dan Indramayu.

Tim Wana Nusa Jaga Hutan Nusakambangan

Media Indonesia, 20 April 2011

KERUSAKAN hutan akibat pembalakan liar di Pulau Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah, semakin memprihatinkan. Dari luas 12 ribu hektare hutan, 30% di antaranya telah rusak.

"Hutan rusak akibat penjarahan dan alih fungsi lahan menjadi sawah dan perkebunan. Petugas juga sering memergoki terjadinya perburuan satwa liar," kata Direktur Jenderal Pemasyarakatan Kementerian Hukum dan HAM Untung Sugiyono, kemarin.

Dirjen menggagas terbentuknya patroli bersama Wana Nusa untuk konservasi Nusakambangan. Kementerian merangkul kepolisian, Badan Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Tengah, Pemkab Cilacap, LSM, dan pihak terkait dalam tim. Patroli bergerak untuk mencegah terjadinya pembalakan liar, perburuan satwa liar, dan masuknya pendatang ilegal.