Latest Blog Roll

90 Persen Hutan Bakau Sumut Rusak

KOMPAS.com, 13 Mei 2011

Oleh Benny N Joewono

MEDAN, KOMPAS.com - Pelaksana Tugas Gubernur Sumatera Utara (Sumut) Gatot Pujo Nugroho mengaku prihatin dengan kondisi hutan bakau di provinsi itu mengalami kerusakan cukup parah yang mencapai sekitar 90 persen.

"Dari laporan Badan Lingkungan Hidup, sekitar 90 persen rusak," kata Gatot Pujo Nugroho usai melepas rombongan penelusuran ekowisata hutan bakau dalam rangka peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2011 di Medan, Kamis (12/5/2011).

BMKG Bali Buat Peta Bencana

VIVAnews, 12 Mei 2011

Oleh. Bobby Andalan|Bali

VIVAnews- Badan Meteorologi dan Geofisika (BMKG) Bali dan yayasan dari Jepang akan membuat peta rentan bencana. Hal itu terutama untuk mengantisipasi prediksi tenggelamnya Bali pada 2050.

Kepala Bidang Informasi dan Data BMKG Bali, Endro Tjahono mengatakan, dengan membuat peta kerentanan bencana, akan diketahui apa penyebab Pulau Bali tenggelam. “Kami survei tentang keadaan cuaca, hujan dan panas terkait perubahan iklim. Kami akan cek semua cuaca dengan bantuan peta itu. Untuk hasil maksimal butuh waktu 3 tahun mengetahui apa penyebab Bali tenggelam," ujarnya, Kamis 12 Mei 2011.

Warga "Ngungsi" Hindari Amukan Gajah

Antara, 12 Mei

2011

Dumai

(ANTARA News) - Sejumlah warga di Desa Bangkosempurna, Kecamatan Bangkopusako, Kabupaten Rokan Hilir, Riau, dikabarkan mengungsi kepemukiman yang jauh dari lahan hutan dan perkebunan palawija guna menghindari amukan gajah liar.

"Mau nggak mau mengungsi adalah jalan satu-satunya untuk menghindari amukan `datuk` (sebutan gajah liar) yang sering kelaparan terutama pada malam hari," kata seorang pemuka masyarakat di Desa Bangkosempurna, Rijah, Rabu.

Ia mengatakan ada sekitar sepuluh keluarga yang rumahnya berada sangat dekat dengan perkebunan dan hutan atau jauh dari pedesaan mengungsi ke rumah kerabat yang ada di komplek ramai pemukiman.

"Selain mengungsi, banyak warga juga memilih untuk tidak mengurus kebun kelapa sawit mereka yang sebenarnya sudah mulai siap panen," katanya.

Camat Bangkopusako, H Abdul Manan melalui komunikasi selularnya kepada ANTARA menerangkan, sudah mengetahui ada warga yang mengungsi.

"Yang dilakukan warga itu adalah pilihan yang baik sebelum timbul korban jiwa," tuturnya.

BMKG: Ada 119 Titik Api di Sumatra

Media Indonesia, 12 Mei 2011

Oleh Rudi Kurniawansyah

PEKANBARU--MICOM

Badan Metereologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Pekanbaru menyatakan sebagian besar wilayah Riau saat ini sedang membara akibat kebakaran lahan dan diselimuti oleh kabut asap.

"Benar yang ada sekarang adalah kabut asap dari kebakaran lahan di 10 kabupaten/kota. Pantauan terakhir terdeteksi sebanyak 119 titik api di Sumatra, dan 46 di antaranya ada di Riau, kata staff Analisa BMKG Pekanbaru Adhitama kepada Media Indonesia di Pekanbaru, Kamis (12/5).

Bersih-bersih Sungai KRB


Radar Bogor, 03 Mei 2011


PEDULI LINGKUNGAN: Pelajar memungut sampah yang memenuhi sungai di sekitar Kebun Raya Bogor, kemarin.

BOGOR – Kondisi sungai di sekitar Kebun Raya Bogor (KRB) yang kumuh karena dipenuhi sampah, mengundang keprihatinan 200 pelajar SMP dan SMA di Kota Bogor. Kemarin, mereka terjun langsung membersihkan sungai dan memungut sampah di sekitar areal wisata itu. Bahkan, tak sedikit di antara mereka merupakan pelajar berkewarganegaraan asing.

Ya, kegiatan bertajuk A Billion Act of Green ini adalah wujud apresiasi para siswa menyambut Hari Bumi, 22 April lalu. Dari tangan mereka, tak kurang dari sepuluh karung sampah terkumpul.

Antusiasme para pelajar saat membersihkan sampah sungai di lingkungan KRB memang sangat terlihat. Tak segan, mereka rela berbasah-basahan di sungai.
 
Kegiatan ini diprakarsai beberapa LMS dan instansi yang bergerak di bidang lingkungan. Di antaranya, Pili Green Network, LIPI, Rmi The Indonesian Institute for Forrest and Environment, Cifor, PDAM Tirta Pakuan serta Kedubes Amerika Serikat untuk Indonesia.

SIARAN PERS: ‘Janji Aksiku Untuk Bumi’ Wujud Komitmen Anak Muda di Bogor dalam Merayakan Hari Bumi 2011

Bogor, 29 April 2011 Sebagai wujud kepedulian kita terhadap lingkungan, berbagai kelompok yang peduli pada pendidikan lingkungan berinisiatif untuk melakukan kegiatan “Sejuta Aksi Untuk Bumi” pada tanggal 30 April 2011 di Kebun Raya Bogor.

Peringatan Hari Bumi yang sesungguhnya jatuh pada 22 April, kali ini mengambil tema sungai dengan mengedepankan isu air dan sampah. Peran sungai sebagai suatu ekosistem menopang kehidupan mahluk hidup seringkali diabaikan. Padahal banyak nilai manfaat yang dirasakan oleh masyarakat yang tinggal di sekitar sungai. Oleh karena itu diperlukan penyadaran lingkungan agar masyarakat peduli dan menjaga sungai agar tidak terjadi bencana.

Salah satu ancaman bagi kelestarian sungai di beberapa kota besar khususnya Jakarta-Bogor adalah banyaknya alih fungsi lahan di sekitar daerah aliran sungai (DAS). Pengawasan pemerintah untuk sungai masih sebatas monitoring di beberapa titik di sepanjang sungai. Selain itu, perlunya kampanye dan pendidikan untuk menggugah kesadaran masyarakat akan pentingnya pelestarian sungai yang berkelanjutan harus sering dilakukan. Kegiatan ini merupakan kontribusi dari RMI, PILI Green Network, CIFOR, Kebun Raya Bogor dan didukung oleh Kedutaan Besar Amerika Serikat serta PDAM Tirta Pakuan.

Peserta terdiri dari beberapa siswa perwakilan beberapa sekolah dalam dampingan Kedutaan Besar Amerika Serikat, perwakilan sekolah di Jabodetabek, komunitas siswa yang tergabung dalam JERAMI Bogor, Yayasan Cipta Mandiri, English Access Microscholarship Program, Kampung Melayu Kecil, TGG (Teens Go Green) Jakarta, KOPHI Jakarta, Harbapala, River for Life, Jakarta Glue, Lawalata dan GC UI.

Kepulauan Seribu Diserang Sampah

Kompas Cetak, 26 April 2011

Jakarta, Kompas - Sudah lima hari terakhir ini sampah dari perairan Laut Jawa secara bertubi-tubi menyerang Kepulauan Seribu, Jakarta. Pulau Untung Jawa dan Pulau Rambut merupakan pulau yang terserang sampah cukup parah. Setiap hari volume sampah mencapai 190 ton.

Bahkan, sampah yang datang pada Senin (25/4) bukan hanya plastik dan dahan-dahan pohon, melainkan juga mayat laki-laki dewasa. Berdasarkan keterangan pihak pemerintah setempat, mayat itu terdampar di Pulau Untung Jawa bersama sampah pada Senin dini hari.

Kepala Satuan Reserse dan Kriminal Kepolisian Resor Kepulauan Seribu Ajun Komisaris Reynold Hutagalung mengatakan bahwa mayat tersebut diduga kuat adalah nelayan yang tenggelam sebab tidak ditemukan luka penganiayaan pada tubuhnya.

Serangan sampah yang ikut membawa mayat tersebut dikeluhkan warga Kepulauan Seribu karena mengotori lingkungan. Sekretaris Kecamatan Kepulauan Seribu Selatan yang juga merangkap sebagai Pelaksana Harian Lurah Untung Jawa Eko Saroyo mengatakan, warga pun sangat direpotkan dengan serangan itu.

Respons Kementerian Lingkungan Lamban

Kompas Cetak, 26 April 2011

Jakarta, Kompas - Kementerian Lingkungan Hidup dinilai lamban merespons ledakan hama ulat bulu yang disebutkan sebagai dampak fenomena perubahan iklim. Institusi baru Dewan Nasional Perubahan Iklim pun belum bekerja efektif.

”Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) tergagap menghadapi masalah terkait dampak perubahan iklim ini,” kata mantan Menteri Lingkungan Hidup Sonny Keraf di Jakarta, Senin (25/4).

Menurut dia, KLH maupun Dewan Nasional Perubahan Iklim (DNPI) terpaku pada dampak perubahan iklim pemicu bencana, seperti longsor dan banjir. Bahkan, terpaku pada negosiasi dengan Norwegia yang berkomitmen menyalurkan dana 1 miliar dollar AS untuk penurunan emisi di Indonesia.

Pencemaran Rugikan Semua Pihak

Kompas Cetak, 26 April 2011

Bandung, Kompas - Kerusakan Sungai Citarum di Jawa Barat akibat pencemaran dan sedimentasi yang hebat telah merugikan pemerintah, pembangkit listrik tenaga air, petani, pembudidaya ikan, industri tekstil, dan rakyat biasa. Padahal, investasi pemerintah dan swasta di aliran sungai tersebut mencapai triliuan rupiah. Investasi tekstil dan produk tekstil, misalnya, sekitar Rp 80 triliun.

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia Jawa Barat Dedy Widjaja, pekan lalu di Bandung, mengatakan, saat banjir Citarum melanda selama sebulan penuh, Maret 2010, kerugian semua jenis industri di Kabupaten Bandung, Purwakarta, dan Karawang mencapai Rp 200 miliar. Selain tekstil dan produk tekstil, pabrik yang stop operasi bergerak di bidang otomotif dan elektronik.

General Manager Indonesia Power Unit Bisnis Pembangkit Saguling Erry Wibowo mengungkapkan, pencemaran itu membuat peralatan turbin cepat rusak akibat pengaratan. ”Kami harus segera mengganti turbin. Jika terlambat, akan mengganggu sistem operasi,” ujarnya.

Satu Harimau Dikirim ke "Rescue Centre" Lampung

Antara News, 25 April 2011

Bengkulu (ANTARA News) - Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu akan mengirimkan seekor Harimau Sumatera (Panthera Tigris Sumatrae) betina bernama Tarisa (2,5 tahun) ke "Rescue Centre" Lampung, Selasa (26/4).

"Rescue Center Lampung itu dikelola Tambling Wildlife Nature Conservation dalam kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan. Paling cocok untuk berkembang biak bagi Tarisa," kata Kepala BKSDA Bengkulu, Amon Zamora, Senin.

Menurut dia, pihaknya sedang mempersiapkan segala administrasi jalan, cek kesehatan, dan kelengkapan lainnya bagi Tarisa agar setelah diberangkatkan dalam kondisi betul-betul sehat.

Rencananya, Tarisa akan diangkut dengan pesawat Cassa milik perusahaan swasta nasional setelah dilepas Dirjen Perlindungan Hutan dan Konservasi Ir Darori bersama Plt Gubernur Bengkulu Junaidi Hamsyah di Bandara Fatmawati (26/4).